Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Mamasa adalah sebagai berikut :

  1. mengembangkan sistem pusat kegiatan yang merata dan berhierarki sesuai dengan karakteristik dan kearifan lokal;
  2. meningkatkan keterkaitan antara sistem pusat-pusat kegiatan di wilayah kabupaten dengan sistem pusat kegiatan di wilayah yang lebih luas; dan
  3. mendorong pengembangan pusat-pusat kegiatan baru.
  1. mengembangkan sistem jaringan prasarana transportasi darat yang ekokontruksi;
  2. mengembangkan sistem jaringan pelayanan transportasi darat untuk mendukung aksesibiltas antar kawasan fungsional;
  3. meningkatkan sistem pelayanan angkutan intermoda;
  4. mengembangkan sistem jaringan prasarana dan jaringan pelayanan energi yang terbarukan dan tidak terbarukan untuk mendukung pengembangan wilayah;
  5. mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi wilayah hingga wilayah terpencil;
  6. mengembangkan sistem jaringan sumber daya air dalam rangka mendukung konservasi maupun pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air;
  7. mengembangkan sistem jaringan pengelolaan lingkungan permukiman untuk mendukung perikehidupan masyarakat; dan
  8. mengendalikan perkembangan kawasan di sekitar jaringan prasarana wilayah.
  1. menetapkan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya;
  2. mengembalikan fungsi kawasan lindung yang telah rusak untuk menjaga keseimbangan ekosistem;
  3. mengelola kawasan lindung sebagai kawasan penelitian dan pariwisata terbatas;
  4. meningkatkan pelestarian kawasan cagar budaya di Kabupaten Mamasa untuk mendukung kegiatan pariwisata;
  5. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam di kawasan lindung.
  1. menetapkan daya tarik wisata Kabupaten Mamasa sebagai kawasan pariwisata yang dipaduserasikan dengan kawasan wisata Tana Toraja;
  2. menyusun sinergitas kebijakan, program dan kegiatan pariwisata di wilayah Kabupaten Mamasa dengan yang ada di wilayah lain dalam KSN Toraja dan sekitarnya;
  3. mengembangkan promosi wisata daerah;
  4. memelihara dan melestarikan daya tarik wisata yang ada, terutama daya tarik benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya, kearifan nilai-nilai sosial budaya lokal, keasrian-keasrian alam, pertanian, perkebunan dan kehutanan; dan
  5. mengendalikan perkembangan kawasan di sekitar obyek wisata, terutama wisata cagar budaya
  1. menetapkan kawasan peruntukan pertanian sebagai kawasan pertanian pangan berkelanjutan yang perlu dilindungi;
  2. menetapkan kawasan perkebunan kopi dan kakao sebagai wilayah geografis penghasil produk perkebunan spesifik lokasi yang perlu dilindungi;
  3. menetapkan kawasan hutan sebagai hutan lindung maupun hutan produksi yang sinergis dengan sektor pariwisata;
  4. mengembangkan agroindustri, agrobisnis dan agrowisata untuk memberi nilai tambah dalam perekonomian wilayah;
  5. mengembangkan rekayasa teknologi kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan yang mempunyai kendala dalam kemampuan lahan;
  6. mengembangkan prasarana dan sarana pendukung dalam rangka peningkatan produksi kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan; dan
  7. mengendalikan perkembangan kawasan di sekitar kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan.
  1. menetapkan kawasan peruntukan perikanan air tawar;
  2. mengembangkan usaha budi daya perikanan air tawar; dan
  3. mengembangkan teknologi budi daya perikanan air tawar.
  1. mendukung penetapan kawasan peruntukan pertanahan dan keamanan;
  2. mengembangan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;
  3. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara sebagai zona penyangga; dan
  4. turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan.

Comments are closed.

Close Search Window