Klik untuk menampilkan/menyembunyikan layer
  1. Kabupaten Mamasa
  2. Prov. Sulawesi Barat
  3. Prov. Sulawesi Selatan
  4. Batas Desa
  5. Batas Kecamatan
  6. Ibukota Kecamatan
  7. Jalan
  8. Sungai
  9. Geomorfologi
  10. Geologi
  11. Jenis Tanah
  12. Daerah Aliran Sungai
  13. Hidrologi
  14. Curah Hujan
  15. Kawasan Hutan
  16. Tutupan Lahan
  17. Kelas Lereng
  18. Topografi
KlimatologiGeomorfologi MorfologiRawan BencanaLahan dan TanahHodrologiUdaraTambang dan MineralHutan/Biodiversity

Kondisi klimatologi sebagai berikut :

1.  Musim

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, di wilayah studi juga terdapat dua musim yaitu musim hujan dan kemarau. Musim hujan berlangsung mulai bulan Desember sampai Mei dan musim kemarau berlangsung pada bulan Juni sampai November. Pola musim tersebut dipengaruhi oleh musim Barat dan Timur yang lamanya enam bulan sekali setelah mengalami masa peralihan.

2. Temperatur, Kelembaban dan Suhu Udara

Suhu udara bervariasi menurut ketinggian tempat dan jaraknya dari pantai. Temperatur rata-rata 22-240C (derajat Celsius) di malam hari dan 28-300C disiang hari.

3. Curah Hujan

Curah hujan tahun 2014 relatif tidak merata. Curah hujan relatif tinggi pada musim hujan yaitu pada bulan September hingga Desember dan relatif rendah pada musim kemarau yang berlangsung pada bulan Januari hingga Agustus. Keadaan curah hujan dipantau dari beberapa stasiun pengamatan seperti pada stasiun geofisika kelas II, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Holtikultura, dan Balai Penelitian. Curah hujan rata-rata pertahun 2000 mm/tahun. Bahkan pada stasiun Rantekarua menunjukkan jumlah curah hujan diatas 4000 mm/tahun. Distribusi curah hujan sepanjang tahun juga bervariasi. Curah hujan tertinggi terjadi di bulan Maret hingga bulan Mei. Sedangkan curah hujan yang tergolong kurang yaitu berkisar antara bulan Juni hingga Oktober. Jika hitungan bulan kering berdasarkan pada curah hujan <100 mm maka wilayah ini hanya memiliki satu bulan kering yaitu pada bulan Agustus yang terjadi di sekitar wilayah Nosu, Messawa dan Pana.

a. Morfologi Pegunungan

Wilayah yang termasuk kelompok morfologi pegunungan, sebagian besar menempati daerah bagian timur hingga utara wilayah penelitian. Ciri bentang alam pegunungan adalah bentuk relief permukaan yang kasar, berlereng terjal-sangat terjal (>45%) puncak dan punggung berbentuk kerucut dan lembah yang cukup dalam. Berdasarkan ciri morfologi diatas bentang alam ini dikategorikan bentang alam sisa hasil proses denudasional yang didominasi oleh proses valley erosioni dan berlaku efektif sepanjang waktu. Jika dilihat dari ketinggiannya pegunungan bagian utara lebih tinggi dibanding pegunungan bagian selatan. Kedua gugusan pegunungan bagian utara dan selatan, dipisahkan oleh lembah Sungai Mamasa.

b. Morfologi Perbukitan

Morfologi ini menempati ketingian 1500 – 2000 mdpl, mempunyai ciri bentang alam dengan topografi relief sedang dan kemiringan lereng antara 25%-45%. Ciri lainnya adalah bentuk puncak dan punggung membulat. Proses geologi yang berkembang adalah proses denudasi yang didominasi oleh rill erosion dan gully erosion dan membentuk relief sedang. Bagian permukaan dari satuan morfologi ini diselimuti oleh lapisan regolith yang cukup tebal, dibeberapa tempat nampak adanya proses gerakan tanah.

c. Satuan morfologi dataran rendah

Morfologi ini menempati kawasan kaki gunung dengan kemiringan lereng kurang dari 15%, satuan morfologi ini ditempati oleh endapan aluvial, pasir kuarsa dan lempung yang terdapat di sepanjang sungai dan jalan dataran Kabupaten Mamasa.

Morfologi wilayah Kabupaten Mamasa terbagi atas daratan morfologi rendah, morforlogi bergelombang sampai berbukit dan morfologi berbukit sampai bergunung. Morfologi bergelombang, berbukit sampai bergunung mendominasi wilayah ini yaitu sekitar 70% dari total luas wilayah kabupaten. Morfologi dataran rendah terdapat dibagian timur wilayah kabupaten, morfologi perbukitan dibagian tengah dan sebagian di bagian utara dan selatan, sedangkan morfologi pengunungan memanjang dari utara ke selatan pada bagian barat .

Kemiringan lahan berkaitan dengan kemampuan lahan untuk mengakomodasikan aktifitas masyarakat dalam ruang. Aktifitas masyarakat relatif lebih mudah di lakukan pada lahan yang landai dengan kemiringan 0 – 15%. Lahan dengan kemiringan lebih dari 15% cenderung mempunyai kendala dalam pemanfaatan ruang khususnya bagi kegiatan fisik terbangun, karena semakin curam lahan semakin mudah terjadinya erosi terhadap permukaan tanah.

Kabupaten Mamasa berada pada ketinggian yang bervariasi untuk masing-masing daerahnya, dengan pengelompokkan sebagai berikut :

  1. Datar, terletak pada ketinggian 0 – 500 m dpl di wilayah tengah Kecamatan Mamasa dan Tawalian dan kearah selatan yaitu Kecamatan Sumarorong.
  2. Berbukit, terletak pada ketinggian antara 500 – 1000 m dpl di antara Kecamatan Messawa, Balla dan Tanduk Kalua.
  3. Pegunungan dengan ketinggian diatas 1000 mdpl terletak di bagian utara Tabulahan, Tabang dan Bambang dan ke arah timur yaitu Kecamatan Pana, Nosu dan Sesena Padang.

Kondisi bencana alam yang terjadi di daerah Kabupaten Mamasa secara umum mengikuti dengan kondisi di Indonesia, sebagai berikut:

Gerakan tanah (Tanah Longsor)

Secara umum wilayah Kabupaten Mamasa yang secara fisiografi terdiri dari dataran dan pebukitan dan sebagian besar merupakan kawasan dataran yang mempunyai kemiringan sangat landai. Daerah daerah yang mempunyai kemiringan besar yang memungkinkan terjadinya gerakan tanah dijumpai hampir semua kecamatan di wilayah Kabupaten Mamasa.

Kemungkinan adanya bencana gerakan tanah sangat tergantung dari berbagai faktor antara lain:

A. Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya gerakan tanah di semua kecamatan. Kemiringan lereng yang ada bervariasi mulai dari 20 % hingga 70 %.

B. Batuan Penyusun

Wilayah Kabupaten Mamasa tersusun oleh 5 (lima) satuan batuan, yang dikelompokkan atas ciri litologi dan dominasi dari setiap satuan batuan. Satuan batu tersebut antara lain :

  1. Satuan Serpih – Filit
    Satuan batuan ini termasuk dalam Formasi Latimojong (Sudjatmiko dan Djuri, 1974), terdiri dari perselingan serpih, batu pasir malih dan filit setempat bersisipan dengan batu lempung malih. Satuan batuan ini diperkirakan berumur ±100 juta tahun yang lalu. Jenis batuan ini tersebar disebelah barat wilayah Kecamatan Mambi, Kecamatan Aralle dan sebagian besar Kecamatan Tabulahan, serta sebelah timur wilayah Kecamatan Nosu, Kecamatan Pana dan Kecamatan Tabang
  2. Batuan Terobosan (intrusive) Granite
    Satuan ini terdiri dari batuan granit biotiti, menyebar ke sebagian besar wilayah Kabupaten Mamasa yang meliputi Kecamatan Balla, Kecamatan Sesena Padang, Kecamatan Tawalian, Kecamatan Mamasa, Kecamatan Bambang, dan sebagian di Wilayah Kecamatan Sumarorong, Kecamatan Pana, Kecamatan Nosu, Kecamatan Tabang, Kecamatan Aralle, dan Kecamatan Tabulahan. Batuan terobosan granit berupa batolit di Sungai Mamasa – Malabo – Sumarorong.
  3. Batuan Lava Andesit
    Satuan ini terdiri dari Lava Andesit-Basal, Breksi Andesit Piroksin dan Lava Andesit Trakit. Penyebaran satuan batuan ini sangat luas di wilayah Kecamatan Mambi dan Kecamatan Tanduk Kalua’ serta memanjang dari arah selatan di Kecamatan Sumarorong dan hampir semua wilayah Kecamatan Messawa. Letaknya menjemari dengan satuan batu pasir bersusun andesit dan satuan ini diperkirakan berumur Miosin Tengah – Pliosen atau terbentuk ± 3,2-15 juta tahun lalu.
  4. Satuan konglomerat
    Satuan ini terdiri dari konglomerat yang tersusun oleh material-material granit, diorite andesit, batu pasir tufaan, batu lanau dan serpih. Penyebaran satuan ini terbatas pada hulu Sungai Malasa, muara Sungai Mehalaan dan Sungai Lobangbatu Kecamatan Mambi. Satuan ini berumur Plistosen Bawah atau terbentuk ±1,8 juta tahun lalu.
  5. Satuan Batu Pasir Bersusun Andesit
    Satuan ini terdiri dari batu pasir bersifat andesit, ukuran butir bervariasi dan umumnya berbutir halus hingga sedang, penyebarannya meliputi daerah sekitar Sungai Masuri dan Gunung Galanggang. Satuan ini berumur Miosen Tengah Plitosen Tengah atau terbentuk ± 3,2-15 juta tahun lalu.
C. Gempa bumi

Sulawesi Barat yang terangkum dalam peta Tata Ruang Nasional merupakan salah satu daerah di Indonesia yang termasuk dengan wilayah rawan gempa bumi. Kondisi inilah yang harus diperhatikan dalam merencanakan pemanfaatan lahannya. Meskipun berdasarkan catatan kegempaan di Sulawesi-Selatan dan Barat, pernah terjadi gempa pada tahun 2001 di wilayah Kabupaten Pinrang yang mempunyai kedalaman pusat gempanya antara 12 km hingga 32 km

Berdasarkan data Statistik pada tahun 2013 Kabupaten Mamasa tercatat memiliki luas lahan 300.588 Ha dengan fungsi yang berbeda-beda yang terdiri atas Kawasan Suaka Alam (KSA) seluas 53.447 Ha (17,79%), Hutan Lindung (HL) seluas 90.798 Ha (30,22%), Hutan Produksi  (HP) seluas 49.977 ha (16,63%), Areal penggunaan lain (APL) seluas 105.428 Ha (35,07%) dan tubuh air (air) seluas 938 Ha (0,31%). (Kabupaten Mamasa Dalam Angka 2014). Kondisi sumberdaya lahan dan tanah berbeda-beda untuk masing-masing wilayah, tergantung pada kondisi topografi, jenis tanah dan struktur geologi pembentuknya. Secara umum, kondisi sumberdaya lahan dan  tanah di Kabupaten Mamasa berdasarkan identifikasi citra satelit dan buku identifikasi lahan Kabupaten Mamasa tahun 2006 yaitu didominasi oleh hutan dan perkebunan.

Sedangkan yang menjadi kendala dalam aspek sumberdaya lahan dan tanah adalah kondisi lahan yang didominasi oleh tanah dengan kandungan batuan dan mempunyai kemiringan yang tinggi, sehingga menjadi kendala untuk wilayah pengembangan. Adapun wilayah yang mempunyai peluang untuk pengembangan adalah wilayah daratan yang dalam hal ini terdapat di Kecamatan Mamasa, Kecamatan Tawalian, sebagian Kecamatan Balla, sebagian Kecamatan Messawa dan Kecamatan Sumarorong.

Jenis dan Intensitas Penggunaan Lahan Eksisting

Kabupaten Mamasa mempunyai 17 wilayah kecamatan (Mamasa, Sumarorong, Messawa, Pana, Nosu, Tabang, Tanduk Kalua, Balla, Sesena Padang, Tawalian, Mambi, Bambang, Rantebulahan Timur, Aralle, Mehalaan, Buntu Malangka dan Tabulahan). Hingga Tahun 2013 penggunaan lahan belum dilakukan secara optimal terbukti dengan sebagian besar wilayah tidak dimanfaatkan sesuai dengan fungsi dan peruntukannya  misalnya kawasan permukiman masih diperbolehkan pada wilayah aliran sungai dan  wilayah dengan kemiringan lereng yang terjal yang seharusnya diperuntukan bagi kawasan hijau dan ini dapat dijumpai di semua wilayah kecamatan. Fungsi hutan di wilayah Kabupaten Mamasa antara lain meliputi kawasan hutan lindung, kawasan hutan produksi, kawasan suaka alam dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.

Berdasarkan hasil analisis geospasial pada tahun 2015 Kawasan hutan lindung di Kabupaten Mamasa tercatat memiliki luas 78.038 Ha.  Untuk Hutan Lindung terluas terdapat di Kecamatan Tabulahan seluas 18.976 ha, kemudian Kecamatan Pana, seluas 9.562 ha. Sementara kecamatan tidak tercatat kawasan hutan lindung adalah Rantebulahan timur, Buntu Malangka dan Bambang.

Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Mamasa terdapat di Kecamatan Messawa dengan luas sekitar 13 ha. Kawasan Hutan Produksi Terbatas tersebar di lima belas kecamatan. Kawasan hutan produksi terbatas terluas terdapat di Kecamatan Tabulahan dengan luas sekitar 15.064 ha. Kawasan Hutan Produksi yang dapat dikonversi terdapat di Kecamatan Tabulahan dengan luasan kurang lebih 367 ha.

Lahan Kritis

Lahan kritis di Kabupaten Mamasa terjadi karena kemiringan   yang memungkinkan terjadinya gerakan tanah yang dapat dijumpai hampir semua wilayah kecamatan. Gerakan tanah sangat tergantung dari berbagai faktor yaitu kemiringan, batuan penyusunnya dan struktur  geologi (sesar dan kekar). Selain secara geologi lahan kritis terjadi karena adanya alih fungsi yang  terjadi karena adanya suatu kebutuhan.

Dalam hal ini terjadi alih fungsi lahan dari kegiatan pertanian menjadi kawasan perkebunan dan sebaliknya serta adanya penebangan liar terhadap hutan – hutan di Kabupaten Mamasa mengakibatkan terjadi berbagai perubahan.

Dimana perubahan pemanfaatan lahan tersebut untuk jangka pendek tidak akan menimbulkan masalah yang besar tetapi untuk beberapa waktu mendatang akan menimbulkan bencana. Salah satu contoh pada kawasan sepanjang jalan-jalan utama dan pada kegiatan pertambangan galian C oleh masyarakat, hal ini terjadi karena tidak kuatnya lahan dan terjadi suatu pergerakan dalam tanah.

No Bulan Lahan Kritis (Ha) Jumlah (Ha) Realisasi Penanggulangan
Dalam Kawasan Luar Kawasan
1 Sumarorong 12.012,75 8.264,91 20.277,66
2 Messawa 9.005,28 4.892,25 13.897,53
3 Pana 11.503,06 7.625,32 19.128,38
4 Nosu 4.651,41 4.926,14   9.577,55
5 Tabang 22.983,73 4.801,67 27.785,40
6 Mamasa 16.998,20 7.278,52 24.276,72
7 Tanduk Kalua’ 4.271,31 7.351,81 11.623,12
8 Balla 1.749,48 4.009,05   5.758,53
9 Tawalian 741,93 3.890,48 4.632,41
10 Sesena Padang 4.824,57 6.155,62 10.988,19
11 Mambi 3.453,41 5.267,99   8.721,40
12 Bambang 1.215,54 5.139,26   6.354,80
13 Tabulahan 6.409,80 3.029,06   9.438,86
14 Aralle 2.127,80 2.952,52   5.080,32
15 Rantebulahan Timur 0,00 3.052,61   4.052,61
16 Mehalaan 216,43 4.938,88 5.155,31
17 Buntu Malangka 2.078,92 3.639,30 5.718,22
Jumlah 104.243,62 87.215,39 191.459,01

Jenis dan Klasifikasi Tanah

Jenis Tanah

Jenis tanah di Kabupaten Mamasa terdapat berbagai jenis tanah yaitu, Mediteran Coklat, Brown Forest Soil, Podsolik Coklat Kekuningan dan Kompleks Podsolik Coklat Kekuningan dan Regosol.

  • Mediterian Coklat

Jenis tanah Medeteran Coklat ditemukan disisi sebelah barat Kecamatan Pana, Kecamatan Tabang dan Kecamatan Nosu.  Sedangkan jenis tanah Kompleks Podsolik Coklat Kekuningan dan Regosol merupakan jenis tanah yang paling dominan di Kecamatan Pana, Kecamatan Tabang.  Hanya sebagian kecil terdapat di Kecamatan Nosu.

  • Brown Forest Soil

Jenis tanah Brown Forest merupakan jenis tanah terluas di Wilayah Kabupaten Mamasa dan jenis tanah ini cocok untuk tanaman kering.  Jenis ini banyak ditemui di daerah yang biasanya berbukit sampai bergunung,  secara spesifik jenis tanah ini sangat dominan di Kecamatan Mambi, Kecamatan Aralle, Kecamatan Rantebulahan Timur, Kecamatan Bambang dan Kecamatan Tabulahan.  Dengan sebarannya hampir semua wilayah, diperkirakan luasnya mencapai 838,099 Km2.

  • Podsolik Coklat Kekuningan

Jenis tanah ini merupakan jenis tanah terluas kedua di Kabupaten Mamasa dengan luas 354,098 Km2.  Terbentuk dari bahan induk batuan plutonik masam dan terdapat pada wilayah berbukit sampai bergunung.  Jenis tanah ini banyak digunakan untuk sawah, lading dan tanaman karet.  Kecamatan Mamasa merupakan wilayah yang didominasi oleh jenis tanah ini, disamping sebagian kecil termasuk wilayah dengan jenis tanah kompleks podsolik coklat kekuningan.

  • Kompleks Podsolik Coklat Kekuningan dan Regosol

Jenis tanah ini umumnya terdapat di tanah berbukit hingga bergunung dan dibentuk oleh bahan induk tufa dan batuan volkan masam sampai intermediter.  Jenis tanah ini banyak ditemukan disebelah kiri dan kanan jalan lintas Kabupaten dari Perkotaan Polewali menuju Mamasa dan linear dari barat menuju utara.

Kedalaman Efektif Tanah

Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman pada lapisan tanah sampai dimana akar tanaman masih dapat berkembang dan tumbuh secara normal. Hal ini menentukan pertumbuhan tanaman. Semakin dalam lapisan tanah yang dapat dijangkau akar semakin banyak unsur hara yang akan diserap. Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Mamasa dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu; kelompok  >90 cm, 60 – 90 cm, dan 30 – 69 cm.  Persebaran kedalaman efektif tanah di wilayah Kabupaten Mamasa didominasi dengan tingkat kedalaman efektif tanah di atas 90 cm dan   60– 90 cm. Persebaran kedalaman efektif tanah 60 – 90 cm dominan di Kecamatan Tabulahan, Kecamatan Rantebulahan Timur, Kecamatan Mambi, Kecamatan Messawa, dan Kecamatan Nosu.  Kedalaman efektif tanah diatas 30 – 60 cm tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Mamasa, kecuali di bagian utara Kecamatan Mamasa, di bagian utara Kecamatan Sesena Padang, di bagian timur Kecamatan Tabulahan dan sebagian besar di Kecamatan Tabang dan Kecamatan Pana.

Tekstur Tanah

Tekstur tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena berpengaruh pada pengolahan tanah, persebaran akar dan ketersediaan unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif antara fraksi-fraksi tanah seperti pasir, debu dan tanah liat. Persebaran tekstur tanah di Wilayah Kabupaten Mamasa pada umumnya bertekstur halus, yang menyebar di seluruh Kabupaten Mamasa.

Ketersediaan sumberdaya air di Kabupaten Mamasa sangat banyak yang berasal dari beberapa sumber, baik air tanah maupun air permukaan.  Hal ini disebabkan karena letak wilayahnya yang berbukit-bukit dan didominasi oleh hutan, sehingga ketersediaan air di wilayah perencanaan sangat banyak.

Untuk kebutuhan  air bersih sehari-hari, umumnya penduduk menggunakan sumber air permukaan.

Air permukaan di Kabupaten Mamasa yang besar manfaatnya bagi masyarakat untuk kepentingan air bersih maupun lainnya adalah Sungai Mamasa dan Sungai Masupu.

Selain itu di Kabupaten Mamasa juga banyak dijumpai sungai-sungai kecil yang tersebar di semua wilayah kecamatan namun belum dimanfaatkan secara optimal, karena sampai tahun 2014, pemanfaatan air sungai untuk kebutuhan air bersih oleh PDAM baru menjangkau 6 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Mamasa, sebagian Kecamatan Tawalian, sebagian Kecamatan Sumarorong,  sebagian Kecamatan Nosu, Kecamatan Tanduk Kalua dan Kecamatan Messawa.

Berdasarkan data dari PDAM Kabupaten Mamasa Tahun 2015, bahwa sumber air baku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Mamasa dan Kecamatan Tawalian adalah bersumber dari Hulu Sungai Mamasa yaitu dari Loko Mambuliling dan Parak dengan debit 5000 liter/detik kapasitas terpasang 40 liter/detik jumlah pelanggan 1792 sambungan rumah, Kecamatan Sumarorong kapasitas terpasang 10 liter/detik jumlah pelanggan 242 sambungan rumah, Kecamatan Nosu kapasitas terpasang 10 liter/detik jumlah pelanggan 41 sambungan rumah, Kecamatan Tanduk Kalua kapasitas terpasang 10 liter/detik jumlah pelanggan 93 sambungan rumah. Untuk Kecamatan Messawa saat ini dalam status non aktif atau tidak berfungsi akibat  kendala teknis dimana memerlukan rehabilitasi jaringan. Melihat kondisi ini, dilihat dari aspek ketersediaan sumberdaya air di wilayah perencanaan, hal ini bukan merupakan suatu kendala untuk pengembangan wilayah di masa yang akan datang, karena masih bisa menampung kegiatan.

Kondisi sumberdaya udara di Kabupaten Mamasa masih masih bersih dan terhindar dari polusi udara. Hal ini disebabkan karena secara ekologi, wilayah perencanaan masih mempunyai wilayah hutan yang berfungsi untuk meredam dan menyerap udara kotor yang masuk ke udara. Di samping itu kegiatan-kegiatan yang menimbulkan pembuangan polusi ke udara belum signifikan dapat memperburuk kondisi udara, karena luas wilayah hutan tetap lebih besar dibandingkan dengan wilayah yang dimanfaatkan.

Sumberdaya Tambang dan Mineral

Kabupaten Mamasa mempunyai potensi sumberdaya tambang dan mineral, baik berupa emas dan biji besi, maupun tambang galian C. Adapun pertambangan bahan galian C yang diusahakan penduduk di Kabupaten Mamasa adalah sebagai berikut

Bahan Galian Industri

Berdasarkan data Dinas Pertambangan Kabupaten Mamasa Tahun 2013 menunjukkan potensi tambang jenis pasir kuarsa mencapai 545.400m3. Pasir kuarsa memiliki kegunaan utama untuk pembuatan kaca (gelas), untuk bahan penyekat (refractory), untuk campuran bahan industri semen dan industri keramik. Pasir kuarsa di Kabupaten Mamasa berada di Kecamatan Messawa atau di Batu Millok.

Pasir kuarsa dapat digunakan dalam kegiatan pertanian yaitu sebagai pengendali keasaman tanah (PH) dengan pengapuran, dalam  kegiatan industri logam seperti industri logam (besi, baja, nikel) atau industri logam lainnya batu gamping dolomitan digunakan sebagai bahan imbuh (flux) pada tanur tinggi. Pada industri kertas dan karet batu gamping digunakan untuk bahan pemutih, dimana batu gamping tersebut harus mengandung kristal-kristal (CaCo3) yang dibuat berupa bubuk halus, dalam industri gula pasir kuarsa dimanfaatkan dalam penjernihan air gula tebu dan menaikkan pH nya.

Bahan Galian Konstruksi

Sirtu (Pasir dan Batu)

Sirtu adalah campuran pasir yang berukuran halus hingga kasar, kerikil dan kerakal yang terdiri dari berbagai jenis batuan. Sirtu ini merupakan bagian dari endapan sungai (aluvial) dari Sungai Mamasa dan cabang-cabangnya. Terdapat dua jenis sirtu yaitu sirtu yang bersifat lepas (unconsolidated) dan yang bersifat agak kompak (well consolidated). Pasir sungai yang terdapat di sepanjang Sungai Mamasa. Sirtu dan pasir sungai umumnya digunakan untuk bahan bangunan (kontruksi) dan pengeras jalan.

Batu Gamping

Batu gamping di Kabupaten Mamasa pada umumnya merupakan bahan galian golongan C yang vital untuk bahan bangunan karena daerah ini terdapat batuan keras lainnya misalnya batuan beku. Jumlah cadangannya sangat besar dan jenis batu ini dapat dijumpai di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Mamasa, hanya kualitas atau ketahanannya untuk bangunan tidak begitu baik kecuali untuk pengeras jalan.

Sedangkan untuk sumberdaya tambang dan mineral yang berupa emas dan besi, pada saat ini masih dilakukan penelitian sestemik. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dinas Pertambangan Kabupaten Mamasa dan aparat setempat, bahwa kegiatan eksplorasi dalam tahap negoisasi pihak investor bidang pertambangan.

Hutan

Wilayah Kabupaten Mamasa sekitar 65,61% dari luas total wilayahnya adalah hutan. Sektor kehutanan secara umum telah memberikan sumbangan besar dalam keberhasilan pembangunan di daerah dan nasional baik pada situasi normal maupun pada saat krisis, khususnya di Kabupaten Mamasa. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sektor kehutanan di Kabupaten Mamasa dibangun melalui keberadaan hutan produksi terbatas dan hutan lindung.

Menurut SK Menteri Pertanian No. 683/Kpts/Um/8/1981 hutan produksi adalah areal hutan yang dipertahankan sebagai kawasan hutan yang berfungsi untuk menghasilkan hasil hutan bagi kepentingan konsumsi masyarakat, industri dan eksport.  Karena keadaan fisik lahannya, hutan produksi dapat dibagi menjadi hutan produksi dengan penebangan terbatas atau hutan produksi terbatas (HPT) dan Hutan produksi bebas atau hutan produksi tetap (HP).

Yang dimaksud Hutan Produksi Terbatas ialah hutan produksi yang hanya dapat dieksploitasi dengan cara tebang pilih, sedangkan hutan produksi bebas ialah hutan yang dapat dieksploitasi baik dengan cara tebang pilih maupun tebang habis, kedua-duanya pada prinsipnya secara terbatas berfungsi pula sebagai hutan lindung.

Untuk lebih jelasnya mengenai luas kawasan hutan berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakan (TGHK) dapat dilihat pada tabel berikut

No Kecamatan Hutan Produksi Jumlah
Hutan Lindung Hutan

Produksi

Konversi

Hutan Produksi

Terbatas

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

 

 

Aralle

Balla

Bambang

Mamasa

Mambi

Messawa

Nosu

Pana

Rantebulahan Timur

Sesena Padang

Sumarorong

Tabang

Tabulahan

Tanduk Kalua

Tawalian

Mehalaan

Buntu Malangka

 

4.856

115

32

601

5.814

3.180

9.562

4.173

8.811

6.329

18.976

4.966

4.188

6.435

 

367

 

6.480

1.335

2.549

1.066

8.293

3

4.291

548

111

152

3.476

15.064

1.024

4.123

499

 

11.336

1.450

2.549

1.098

8.894

5.817

7.471

10.110

111

4.325

12.287

6.329

34.407

5.990

4.188

10.558

499

Jumlah 78.038 367 49.014 127.419

Berdasarkan tabel diatas, potensi luas hutan di Kabupaten Mamasa adalah (1) Hutan produksi konversi 367 ha  yang hanya terdapat di Kecamatan Tabulahan (2) Hutan Produksi Terbatas 49.014 ha yang terdapat di wilayah Kecamatan Aralle, Balla, Bambang, Mamasa, Mambi, Messawa, Nosu, Pana, Rantebulahan Timur, Sesena Padang, Sumarorong, Tanduk Kalua, Tawalian, Mehalaan, Buntu Malangka dan Tabulahan. (3) Hutan Lindung sebesar 78.038 ha tersebar di seluruh kecamatan dalam wilayah Kabupaten Mamasa kecuali Kecamatan Rantebulahan Timur, Buntu Malangka dan Bambang yang tidak tercatat dalam kawasan hutan lindung.

Hasil produksi hutan yang sangat memberikan andil besar pada pembangunan Kabupaten Mamasa yang bernilai ekonomis antara lain kayu pinus dengan produksi 6.000 ton/tahun, kayu makademia dan jenis uru. Dari beberapa jenis kayu yang ada yang menjadi kayu andalan adalah Kayu Uru dan Pinus. Selama ini pemasaran kayu selain digunakan dalam wilayah Mamasa sebahagian dijual ke daerah tetangga seperti ke Mamuju, Polewali dan Majene bahkan ke Kota Makassar. Produksi hasil hutan di Kabupaten Mamasa dalam hal pemasaran masih terkendala dengan transportasi yang cukup rumit dan hanya dapat dilakukan melalui angkutan darat. Keberlanjutan pembangunan sektor kehutanan sangat dipengaruhi oleh peran stakeholder kehutanan dalam melindungi dan memelihara hutan.

Keanekaragaman Hayati

Permasalahan di Kabupaten Mamasa adalah belum terdapatnya taman nasional, suaka marga satwa dan suaka alam yang berfungsi untuk menjadi tempat hidup flora dan fauna yang dapat dijadikan sebagai ciri khas Kabupaten Mamasa.

Comments are closed.

Close Search Window