Klik untuk menampilkan/menyembunyikan layer
  1. Kabupaten Mamasa
  2. Prov. Sulawesi Barat
  3. Prov. Sulawesi Selatan
  4. Batas Desa
  5. Batas Kecamatan
  6. Ibukota Kecamatan
  7. Jalan
  8. Sungai
  9. Topografi
  10. Kepadatan Penduduk
  11. Hutan Rakyat
  12. Pertanian
  13. Perkebunan
  14. Kesesuaian Lahan
PerkebunanTanaman PanganPeternakan/PerikananIndustri/PerdaganganPariwisata
Selain kehutanan terdapat sektor yang lainnya adalah perkebunan, dimana jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Mamasa yaitu kelapa dalam, kakao, kopi robusta, kopi arabika, kemiri, lada, vanili dan aren. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.6. Komoditi perkebunan jenis kakao merupakan salah satu komoditi unggulan dan menjadi primadona di Kabupaten Mamasa selain kopi arabika dan kopi robusta.

Komoditi kakao mengalami peningkatan dari tahun 2009 sampai 2013 baik produksi maupun penambahan luas arealnya, bahkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2011 menjadi 17.182 ton dari 5.212 ton pada tahun 2010. Meski kemudian kembali mengalami penurunan pada tahun 2012 menjadi 12.693 ton dan meningkat menjadi 12.740 ton pada tahun 2013. Peningkatan produksi tanaman kakao dari tahun 2012 ke 2013 mengalami peningkatan yang agak lambat disebabkan hama penyakit jenis buah busuk meskipun masih merupakan komoditi andalan Kabupaten Mamasa. Sehingga melalui upaya dari berbagai stakeholder terkait, komoditi ini diupayakan semaksimal mungkin dengan adanya pemeliharaan yang sesuai aturan, pemupukan, dan pemeliharaan yang teratur.

Produksi komoditi kopi arabika dan kopi robusta selama kurun waktu lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2009 sampai 2013 cenderung mengalami penurunan produksi meskipun terjadi penambahan luas areal dari 6.987 Ha pada tahun 2009 menjadi 11.951 Ha tahun 2013 untuk kopi robusta dan kopi arabika 6.025 Ha tahun 2009 menjadi 7.226 Ha tahun 2013. Produksi kopi robusta tahun 2009 sebanyak 4.282 ton menurun drastis pada tahun berikutnya hanya mencapai 871 ton kemudian meningkat kembali menjadi 4.218 ton pada tahun 2013. Produksi kopi arabika tahun 2009 sebanyak 3.162 ton meningkat menjadi 4.356 ton tahun 2012 namun kembali mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 1.778 ton. Produksi kopi robusta dan kopi arabika Terjadinya penurunan produksi disebabkan sebagian besar tanaman kopi sudah tua dan sebagian lainnya merupakan tanaman baru.

Sektor pertanian dari data tahun 2013 masih merupakan sektor penting yang diandalkan dalam menunjang roda perekonomian Kabupaten Mamasa.  Berdasarkan data produksi pada tahun tersebut, produksi padi sawah mencapai sekitar 108.230 ton yang dipanen dari areal seluas 25.375 Ha atau rata-rata 4,15 ton per Ha. Produksi padi terbanyak berada di Kecamatan Mambi sekitar 20.153 ton dengan luas panen 4.113 ha. Kemudian produksi komoditi jagung mencapai 2.473,8 ton dengan total luas panen 596 ha. Kemudian produksi komuditi ubi kayu/singkong mencapai sekitar 9.971 ton dari luas panen sekitar 355 ha.  Produksi komuditi kacang tanah mencapai 90,1 ton dari luas panen 140 ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut

No Kecamatan Komoditi Padi (Sawah dan Ladang)
Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (ton/Ha)
1 Sumarorong 679 2.851 4,2
2 Messawa 1.240 5.580 4,5
3 Pana 1.000 2.077 2,1
4 Nosu 670 4.100 6,1
5 Tabang 842 3.873 4,6
6 Mamasa 2.423 10.903 4,5
7 Tanduk Kalua’ 1.817 7.813 4,3
8 Balla 1.595 6.858 4,3
9 Sesena Padang 990 4.059 4,1
10 Tawalian 820 3.444 4,2
11 Mambi 4.113 20.153 4,9
12 Bambang 1.518 5.920 3,9
13 Rantebulahan Timur 2.130 8.520 4,0
14 Mehalaan 1.116 4.352 3,9
15 Aralle 1.850 7.589 4,1
16 Buntu Malangka 1.500 5.850 3,9
17 Tabulahan 1.072 4.288 4,0
Jumlah 25.375 108.230 4,15

Peternakan yang terdapat di Kabupaten Mamasa yaitu peternakan besar berupa sapi, kerbau, kuda, kambing, dan babi. Sementara jenis unggas yaitu itik serta peternakan unggas berupa ayam kampung, itik, ayam buras pedaging dan ayam buras/kapung. Produksi ternak yang masih primadona dalam perekonomian daerah adalah ternak babi. Pada tahun 2013 ternak babi tercacat 30.586 ekor, disusul ternak jenis sapi potong 6.571 ekor, kerbau 5.309 ekor, kuda 391 dan kambing 156 ekor.

Untuk budidaya perikanan di Kabupaten Mamasa didominasi oleh perikanan air tawar yaitu sawah (mina-padi), budidaya kolam dan cekdam/sungai. yang dibudidayakan oleh rumah tangga sebanyak 10.700 rumah tangga pada lahan seluas 7.444,78 Ha dan menghasilkan ikan sebanyak 1.498,27 ton pada tahun 2013 yag terdiri atas jenis ikan mas, ikan nila dan lele, Untuk budidaya perikanan sawah (mina padi) produksi terbesar terdapat di Kecamatan Mamasa dengan jumlah produksi 186,11 ton dengan luas areal pemeliharaan 1,212,35 ha, kemudian disusul oleh Kecamatan Sesena Padang dengan produksi 171,78 ton dan luas areal pemeliharaan 697,83 ha. Gambaran lebih jelas mengenai produksi peternakan dan perikanan di   Kabupaten Mamasa dapat dilihat pada berikut

No Kecamatan Peternakan Besar Unggas
Sapi Kerbau Kuda Kambing Babi Ayam Kampung Itik Ayam pedaging
1 Sumarorong 270 465 6 13 3.097 3.748 388 43
2 Messawa 487 397 28 19 2.409 1.738 12 0
3 Pana 47 807 76 0 2.455 2.992 0 0
4 Nosu 25 726 29 0 1.328 10.870 667 0
5 Tabang 61 248 51 57 1.867 4.984 158 10
6 Mamasa 573 587 5 0 4.464 6.260 907 0
7 Tanduk Kalua 282 234 4 3 2.499 6.778 679 311
8 Balla 62 352 0 0 1.405 3.215 90 0
9 Sesena Padang 33 292 6 0 2.601 4.140 275 0
10 Tawalian 63 156 12 23 1.095 3.197 736 50
11 Mambi 1.247 17 39 36 0 3.716 1.564 0
12 Bambang 220 372 7 0 1.387 2.098 288 3
13 Rantebulahan Timur 319 66 0 0 939 5.743 473 151
14 Mehalaan 330 13 15 0 297 317 140 0
15 Aralle 1.563 203 77 0 369 3.993 2.501 0
16 Buntu Malangka 293 290 9 0 1.990 5.236 244 0
17 Tabulahan 696 84 27 5 2.484 8.308 2.767 0
 Jumlah 6.571 5.309 391 156 30.586 77.333 11.889 568
No Kecamatan Budidaya Mina Padi Budidaya Kolam
Ikan Mas Ikan Nila Ikan Lele Ikan Mas Ikan Nila Ikan Lele
1 Sumarorong 83,14 16,98 0,09 4,16 0,51 0,001
2 Messawa 59,39 12,13 0,06 2,97 0,36 0,001
3 Pana 41,57 8,49 0,04 2,08 0,25 0,001
4 Nosu 50,48 10,31 0,05 2,52 0,31 0,001
5 Tabang 53,45 10,91 0,06 2,67 0,33 0,001
6 Mamasa 154,41 31,53 0,17 7,72 0,95 0,001
7 Tanduk Kalua 106,90 21,83 0,12 5,35 0,66 0,003
8 Balla 62,36 12,73 0,07 3,12 0,38 0,002
9 Sesena Padang 142,53 29,10 0,15 7,13 0,87 0,001
10 Tawalian 95,02 19,40 0,10 4,75 0,58 0,002
11 Mambi 56,42 11,52 0,06 2,82 0,35 0,002
12 Bambang 74,24 15,16 0,08 3,71 0,46 0,001
13 Rantebulahan Timur 38,60 7,88 0,04 1,93 0,24 0,001
14 Mehalaan 42,76 8,73 0,05 2,14 0,26 0,001
15 Aralle 47,51 9,70 0,05 2,38 0,29 0,001
16 Bumal 40,38 8,25 0,04 2,02 0,25 0,001
17 Tabulahan 38,60 7,88 0,04 1,93 0,24 0,001
Total : 1.187,76 242,53 1,27 59,40 7,29 0,022

Kondisi ekonomi Kabupaten Mamasa yang memberikan peluang untuk pengembangan sektor industri dan perdagangan, dengan adanya fasilitas pasar di ibukota-ibukota kecamatan, walaupun pasar yang ada masih dioperasikan satu kali dalam seminggu (pasar mingguan). Kegiatan perindustrian yang ada di Kabupaten Mamasa kebanyakan masih berskala kecil dan industri rumah tangga yang pemasarannya bersifat lokal, kalaupun ada yang dipasarkan keluar daerah itupun berdasarkan atas pesanan konsumen yang sifatnya tidak berkesinambungan. Sampai dengan tahun 2013 kegiatan industri masih didominasi oleh industri rumah tangga yang tercatat sebanyak 467 industri dan  menyerap tenaga kerja sebanyak 1.093 orang. Adapun industri-industri kecil dan tumah tangga yang ada di Kabupaten Mamasa antara lain; industri tahu dan tempe, industri batu bata, industri mebel dan industri kerajinan masyarakat.

Potensi pengembangan industri kerajinan masyarakat seperti kain tenun khas Mamasa yang memiliki corak yang khas, dan perlu juga dikembangkan kerajinan ukir-ukiran, patung, anyam-anyaman, perhiasan manik-manik tapi kesemuanya itu haruslah berbarengan dengan upaya pengembangan pariwisata secara komprehensif sehingga memudahkan pemasaran kerajinan rakyat tersebut.

Kabupaten Mamasa sebagai salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan daerah tujuan utama pariwisata di Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Tana Toraja. Kabupaten Mamasa secara etnis termasuk dalam Suku Toraja atau disebut juga Toraja Barat sehingga corak kebudayaannya memiliki kemiripan dengan budaya masyarakat di Tana Toraja.

Dari segi keindahan alam Kabupaten Mamasa yang berada pada ketinggian 100 – 2.000 mdpl memiliki keindahan alam yang masih alami dan bahkan eksotik yang sangat potensial bagi pengembangan pariwisata. Beberapa obyek wisata yang menarik di Kabupaten Mamasa diantaranya; rumah adat (tongkonan) dengan arsitektur bangunan mirip Toraja versi Mamasa yang beratap melengkung, rumah yang berukir (banua sura’), rumah yang berwarna hitam (banua bolong) dan rumah tanpa warna (banua rapa’).  Potensi wisata lainnya berupa air terjun dengan ketinggian 100 yang berada di punggung Gunung Mambulilling yang terlihat dari pusat perkotaan Mamasa, air terjun yang terdapat di Kecamatan Sumarorong, Messawa, Nosu, Sesena Padang, Bambang dan Balla.  Kemudian potensi pemandian air panas alam yang terdapat di beberapa lokasi di wilayah Mamasa, Messawa, Tanduk Kalua, Tawalian, Aralle dan Buntu Malangka. Kuburan Tua (kuburan Tedong – Tedong) di Kecamatan Balla, perkampungan tradisional, prosesi pemakaman dan atraksi kesenian lainnya.

Untuk lebih jelasnya mengenai potensi obyek wisata di Kabupaten Mamasa dapat dilihat pada tabel berikut

No Kecamatan Potensi Obyek Wisata
1 Sumarorong – Air Terjun (Sarambu) Liawan
– Air Terjun (Sarambu) Laloeng
2 Messawa – Rumah Adat Tappang
– Rumah Adat Makuang
– Gua Kelelawar (Lokko Ledo)
– Air Terjun (Sarambu) Sollokan
– Sumber Air Panas Alam Kanan Malimbong
– Lokko Ledo (Gua Kelelawar)
3 Pana – Batu Laaledong
– Batu Bergoyang
– Panorama Alam
– Rumah Adat Tradisional
4 Nosu –  Mangngaro (Jenasah yang berusia Ratusan Tahun dikeluarkan dari liang tempat jenasah kemudian dibungkus diupacarakan setiap bulan Agustus)
– Perkampungan Adat Tradisional
– Air Terjun (Talando)
– Upacara Rambu Solo’
– Kuburan Tua
5 Tabang – Arung Jeram
– Rumah Adat Tradisional
– Panorama Alam
– Musik Tradisional Gesok
6 Mamasa – Arung Jeram Sungai Mamasa
– Pemandian Air Panas Alam
– Panorama Alam
– Seruling Bambu
– Pendakian Gunung Mambulilling
– Rumah Adat Tradisional
– Perkampungan Tradisional Loko
– Sumber Air Panas Alam
– Air Terjun Sarambu Tetean
– Situs Sejarah To’ Pao (Tempat Perjanjian)
– Upacara Rambu Solo’
– Rumah Ukir
– Gereja Tua
– Air Panas Rante-Rante
– Batu Kumila
– Air Panas Nusantara
– Kerajinan Tangan
7 Tanduk Kalua’ – Panorama Alam
– Rumah adat Tradisional
– Air Terjun Bunu’
– Pemandian Air Panas Alam di Tamalantik
8 Balla – Panorama Alam Puncak Mussa’
– Rumah adat Tradisional
– Perkampungan Tradisional Terpanjang
– Tari Tradisional Bulu Londong
– Kuburan Tua/Purbakala “Tedong-tedong”
– Upacara Rambu Solo’
– Air Terjun Allo Dio
– Sepasang Manusia jadi Batu
– Air Terjun Sareayo
9 Sesena Padang – Rumah Adat Parengnge’ Orobua
– Kuburan Tua
– Perkampungan Adat
– Makam Pahlawan Demmatande
– Panorama Alam
– Rumah Tradisional Lisuan Ada’
– Air Terjun Sikore
– Air Terjun Minanga
10 Mambi – Lantang Kada Nenek
– Panorama Alam
11 Bambang – Perkampungan Adat
– Rumah Adat Tradisional
– Panorama Alam
– Kuburan Gua Batu
– Air Terjun Sambabo
12 Tabulahan – Pendakian Gunung Gandang Dewata
– Perkampungan Adat
– Panorama Alam
– Kuburan Tua
– Pusat Peradaban Pitu Ulunna Salu
13 Aralle – Panorama Alam
– Air Panas Kanan
– Perkampungan Adat
14 Rantebulahan Timur – Panorama Alam
– Perkampungan Adat
– Gua Alam
15 Tawalian – Rumah Adat Tradisional
– Bangunan Gereja Tua (Gereja Pertama di  Mamasa)
– Kuburan Tua Ne’ Pattoni
– Panorama Alam
– Upacara Rambu Solo’
– Gereja Tua
– Air Panas Rantekamiri
– Air Panas Rante Dambu
– Kampung Sirenden
16 Bumal – Air Panas Kanan
– Air Panas Sarambu

Comments are closed.

Close Search Window