Berita|

TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, terus menggenjot penanganan masalah stunting. Hal itu dilakukan sebagai upaya mencegah meningkatnya penyakit stunting di Mamasa.

Demikian dituturkan Kepala Dinas Kesahatan Hajai S Tanga, Kamis (29/8/2019). Hajai menyebutkan, beberapa hari lalu, pihaknya melakukan rapat koordinasi terhadap penanganan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) stunting. Ia menjelaskan, salah satu penyebab terjadinya stunting karena, sanitasi yang tidak layak digunakan.

“Misalnya air yang dikonsumsi dan MCK yang tidak bagus,” jalas Hajai.

Jika MCK dan sanitasi air bersih tidak baik kata dia, tentu dapat menyebabkan ibu hamil cacingan, dan berdampak pada stunting. Berbagai hal yang pihaknya lakukan dalam mengintervensi masalah stunting. Termasuk melakukan penyuluhan kepada kader posyandu, untuk peningkatan kapastibilting kader dalam penanganan stunting.

Lebih jauh ia jelaskan, untuk lokus stunting, pihaknya membangun jamban keluarga di empat lokus. Empat lokus itu antralain Desa Baruru Kecamatan Aralle, Desa Masoso Kecamatan Bambang, Desa Lisuan Ada’ Kecamatan Sesenapadang, dan Desa Tadok Kalua Kecamatan Tabang.

Dari empat lokus penanganan stunting ini, Hajai mengaku mendapat anggaran langsung dari Pemerintah Pusat, sebanyak 100 juta rupiah untuk masing-masing desa. Anggaran itu untuk pembangunan jamban keluarga, minimal 200 unit setiap desa dan tempat cuci tangan dengan sabun.

Untuk penaganan stunting ini, Hajai mengaku pemda Mamasa melakukan dengan cara konveregensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close Search Window